Jumat, 14 Oktober 2011

Saatnya WANITA BICARA

Seringkali perempuan dipandang sebagai golongan kedua dalam segala bidang. Apa lagi dalam hal membela hak asasi manusia (HAM), membela hak sendiri saja masih dipertanyakan. Di era modern seperti ini bahkan masih ada juga perempuan-perempuan yang terkukung dengan aturan yang tak terlihat itu.
Seolah makhluk yang bernama perempuan hanya bisa dijadikan patung untuk bisa dinikmati makhluk laki-laki. Itu mungkin cara berpikir mereka tentang gambaran kontribusi seorang perempuan.
Namun jauh-jauh hari Islam telah memproklamirkan bagaimana peranan perempuan dalam kehidupan. Abu Hurairah radhiallahu ‘anh berkata:
Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya:
“Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layan dengan sebaik-baiknya?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ayah kamu.”
Dari sini kita bisamelihat sejauh mana peranan seorang perempuan dalam menata setiap jenjang kehidupan dari pribadi, rumah tanga, masyarakat, Negara dan bahkan dunia. Jadi bukan suatu alasan untuk perempuan untuk berbuat lebih banyak.
Perempuan sangat identik dengan gossip. Dimana ada gosip disitu ada perempuan, tak bisa dipungkiri itu memang fakta. Namun jangan disama ratakan, yang tidak suka bergosip masih juga berstatus perempuan.
Seperti tiga perempuan ini, Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf, aktivis perdamaian Liberia Leymah Gbowee, dan aktivis perempuan dari Yaman Tawakkul Karim. Ketiga mereka meraih hadiah Nobel Perdamaian 2011.
Tiga wanita yang mengabdikan diri bagi kampanye hak asasi manusia (HAM) dan diakhirinya kekerasan di Liberia dan Yaman. Perjuangan yang begitu lembutnya bagi keselamatan wanita dan hak wanita untuk berpartisipasi penuh dalam tugas pembangunan dan perdamaian. Bukan hanya asik dengan gossip yang makin digosok makin sip, tapi perdamaain dunia memperjuangkan HAM.
Inilah sejatinya jati diri wanita saat berbicara fakta.
“This is a victory for women rights everywhere in the world. What could be better then three women winning the prize?” (BBC News).
Ketua Komite Nobel, Thorbjoern Jagland berpesan, “Kita tidak bisa mencapai demokrasi dan perdamaian yang abadi di dunia kecuali perempuan memiliki kesempatan dengan pria dalam mempengaruhi pembangunan di semua tingkatan masyarakat.”
Perempuan bukan hanya racun dunia tapi bisa menjadi pelopor perubahan dunai yang sedang menderita sakit (krisis HAM).
Jadi wanita, aku bangga!