Selasa, 05 Maret 2013

Sekilas Pertemuanku dengan Sang Legendaris "Herman Lantang"

   2 Februari 2013 lalu, pertama kali saya mengenal sosok Herman lantang dalam sebuah pelantikan organisasi pemerhati lingkungan "Garuda Nusantara" yang di ketuai oleh Bunda Ully Sigar Rusady. sosoknya yang tak lagi muda namun masih terlihat kekar dengan sepasang tongkat yang menopang tubuhnya. masih lihai dalam berbicara dengan semangatnya yang masih bergejolak menjelaskan riwayat hidupnya. Opa, begitulah kami memanggilnya, adalah lulusan mahasiswa jurusan antropologi di FSUI. Dia juga salah satu pendiri Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI dan pernah mengetuai organisasi itu pada periode '72—'74. Bersama sahabatnya,Soe Hoe Gie dia juga menjadi inspirator gerakan demo long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno pasca G 30 S dan semasa Tritura.
  
  Opa Herman Lantang memang salah satu tokoh faforit yang selalu saya banggakan. memang saya baru bertemu dengan beliau baru-baru ini, namun saya lebih dulu mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang tak pernah lepas dari Gie-Mapala dan semeru. Sampai sebelum film biografi "GIE" muncul di layar perak, tak banyak orang yang menggubris kehadiran tokoh yang satu ini, kecuali, lagi - lagi, komunitas pencinta alam, yang sangat mengagungkan sikapnya yang tetap rendah hati.
  
   Sebenarnya, pria tua yang kini lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah, dilahirkan di sudut kota kecil Tomohon, sebuah kota administrasi di propinsi Sulawesi Utara, 67 tahun silam. Dalam buku baptisnya ia diberi nama: Herman Onesimus Lantang. Kegemarannya terhadap alam pun mulai timbul ketika ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai tentara sering mengajaknya keluar - masuk hutan di kawasan Tomohon untuk berburu. Dari situ, lambat laut, kecintaannya terhadap hutan yang sarat aroma sarasah dan petualangan timbul.

   "perkenalkan ini mukhrim gue"  begitulah opa memperkenalkan istrinya tercinta, oma joyce, begitu sapaan akrabnya. "kemanapun gue pergi mukhrim gue selalu setia nemenin gue".tuturnya dengan terus memandangi wajah cantik oma joyce yang sejak tadi tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang sangat mengagumi istrinya. Menularkan kecintaan pada gunung dilakukan Herman sejak awal kepada istrinya, Joyce Moningka, dan dua anak mereka, Erol Lantang dan Cernan Lantang. Langkah pertama adalah pada sang istri yang bukan ”anak gunung”, karena paling banter piknik ke kawasan pegunungan. Awalnya, Herman membawa mereka ke lembah Mandalawangi - Pangrango.

 "Gue kawin telat. Usia gue waktu itu 41 tahun sedangkan istri saya 29 tahun. Beda usia kami jauh sekali, tapi kami sangat mesra sampai sekarang karena ya itu tadi, sering jalan - jalan ke gunung."tuturnya.






  opa sangat bersemangat dalam menceritakan pengalaman hidupnya kepada kami. setiap kata yang terlontar dari mulutnya seakan meresap masuk kedalam otakku, disana kata-kata itu berputar-putar, dan saya seakan berada dimasa dimana dia mengalami hal yang sedang dia ceritakan. cerita yang benar-benar hidup.  sungguh sosok inspiratif menurutku. opa juga tak henti-hentinya menceritakan tentang sahabat karibnya"Gie". dengan menunjuk setiap foto yang terpampang dalam slide..........
*bersambung dulu yah :)

Gunung Bukan Tempat sampah!

    Mendaki gunung memang kegiatan yang sangat menyenangkan bagi sebagian kalangan yang hoby melakukan petualangan di alam bebas. banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan kembali ke alam bebas, salah satunya terbebas dari hiruk pikuk kota metropolitan yang semakin tidak bersahabat. mulai dari pencemaran udara yang sudah tak terkendali, kesibukan selama bekerja, serta hal lain yang membuat kita gerah menghadapi gerlapnya kehidupan kota. namun dengan sedikit refresing dengan melakukan pendakian kita seakan kembali bersemangat menghadapi kehidupan secara normal. udara yang masih bersih dan pemandangan alam yang luar biasa dapat menghilangkan stres dan beban pikiran yang menghantui kita
    Namun saya merasa sangat miris dengan keadaan gunung sekarang ini. sampah ada dimana-mana. dan tentunya yang melakukan itu semua adalah kita yang mengaku diri adalah seorang PENCINTA ALAM DAN LINGKUNGAN. dimana sebenarnya letak kecintaan kita? ketika melihat gunung dan hutan dalam keadaan yang kotor dan kita seakan membiarkan hal itu terjadi. sampah plastik dimana-mana. mulai dari kaleng bekas minuman, kaleng bekas makanan instan, plastik mie instan, pembungkus permen, dan bahkan puntung rokok ada dimana-mana. bukan hanya sekali pendakian saya merasa sangat prihatin, bukan cuma satu gunung yang kondisinya seperti itu namun setiap kali mendaki di gunung yang berbeda saya menyaksikan pemandangan yang kurang menyenangkan. kemanakah kode etik kita? harusnya di gununglah teori kecintaan kita di aplikasikan dengan kesadaran diri sendiri untuk tidak lagi membuamg sampah sembarangan dan kalau perlu sampah itu kita bawa kembali kerumah.bukan malah di diamkan di situ, atau bahkan kita biasa membakarnya. bayangkan saja jika kita membakar sampah itu maka yang terjadi adalah pencemaran udara dan akibat yang terfatal ialah bisa menyebabkan kebakaran hutan
   Siapa saja berhak mendaki gunung. entah itu kalian yang memang sudah dari golongan pencinta alam maupun yang hanya ikut-ikutan untuk mencicipi keindahannya. namun perlu di ingat bahwasanya Satu hal yang perlu kita garis bawahi bahwa GUNUNG BUKANLAH TEMPAT SAMPAH! yah..gunung memang bukan tempat sampah yang setelah kita nikmati, telanjangi dan cicipi keindahan serta keelokannya lalu mengotorinya begitu saja.kepribadian sesungguhnya terbentuk ketika kita telah berada di alam bebas. berbuat baiklah terhadap alam maka alam akan baik terhadapmu. Laladt Mdpl
   

Tissue..Perusak Hutan!

Tissue, merusak hutan dunia! Tahukah Anda dengan Tisuue? Ya, benda yang sangat umum dan sering di gunakan oleh hampir manusia di dunia. Biasanya di gunakan untuk membersihkan tangan, membersihkan barang, membasuh muka dll. Tetapi tahukah Anda bahwa tissue juga bisa berbahaya untuk kita dan dunia kita?


www.belantaraindonesia.org

Bisa dikatakan penggunaan tissue dalam kehidupan sehari - hari memang terhitung praktis. Tetapi pernahkah terlintas di pikiran kita bagaimana asal muasal tissue sampai bisa digunakan oleh kita sehari - hari?

Tissue mulai dibuat sekitar tahun 1880 - an  dari bahan baku kulit kayu yang dijadikan pulp ( bubur kertas ) dan sampai sekarang pun bahan baku dalam pembuatan  tissue masih menggunakan kayu. Kayu yang didapat pastinya dari hasil penebangan pohon - pohon di hutan. Biasanya tissue di Indonesia menggunakan bahan baku dari pohon

Sadarkah kita bahwa penggunaan tissue yang berlebihan ikut mendukung kerusakan hutan? Dimisalkan saja Anda menggunakan 10 sheet tissue dalam sehari dari pemakaian untuk membersihkan tangan, mulut,  atau pun hidung disaat sedang flu.

Apalagi saat sedang flu yang biasanya memerlukan banyak persediaan tissue. Dalam 1 pack tissue terdapat 20 sheet, dan ternyata dari 1 pohon berumur 6 tahun hanya bisa menghasilkan 2 pack tissue saja, 40 sheet lah jadinya. berarti dalam 4 hari saja kita sudah menghabiskan 1 pohon.

www.belantaraindonesia.org

Padahal dari satu pohon itu bisa menghidupkan sekitar 3 orang. Bayangkan berapa jumlah orang disekitar anda yang menggunakan tissue setiap harinya. Pasti sangat banyak. Sampai saat ini pun Indonesia sudah kehilangan sekitar 72% hutan aslinya dan semakin haripun kerusakan hutan masih tetap berlanjut.

Penggunaan tissue dapat kita minimalisir dengan beralih menggunakan sapu tangan atau handuk. Memang penggunaannya tidak sepraktis memakai tissue yang sekali pakai bisa langsung di buang, sapu tangan harus dicuci agar dapat digunakan kembali.

Tetapi lihat saja manfaat penggunaan sapu tangan selain mengurangi kerusakan hutan, kita juga membantu mengurangi penumpukan sampah. Jika dilihat dari segi produksinya, menghemat penggunaan tissue dapat mengurangi pemborosan energi dan air saat proses produksi.

Belum lagi dampak negatif lainnya dari segi kesehatan yakni dari penggunaan tissue yang berlebihan. Kita kerap menggunakannya untuk mengambil atau membungkus makanan, misalnya gorengan, untuk menghindari tangan kotor atau menyerap minyak yang berlebihan pada makanan tersebut. Padahal, zat kimia yang terkandung dalam kertas tissue, kata Sapto Nugroho Hadi, dari Departemen Biokimia IPB, dapat bermigrasi ke makanan.

Zat ini disebut pemutih klor yang memang ditambahkan dalam pembuatan kertas tissue agar terlihat lebih putih dan bersih. Zat ini bersifat karsinogenetik ( pemicu kanker ). Hal yang sama juga terjadi pada kertas yang lain, entah kertas koran atau majalah, yang sering dipakai untuk membungkus makanan.

Kertas - kertas ini mengandung timbal ( Pb ) yang bisa berpindah kemakanan karena panas makanan.Timbal yang masuk ketubuh akan meracuni tubuh dan menyebabkan beragam gangguan, dari kondisi pucat sampai lumpuh.

Dengan mengetahui berbagai plus minus penggunaan tissue kami mengajak Anda semua untuk mengurangi penggunaan tissue dan mulai beralih menggunakan saputangan sejak detik ini. Semua berawal dari sesuatu yang sederhana untuk hutan kita, sebab hutan adalah titipan Sang Pencipta untuk cucu - cucu kita nantinya. Sayangi bumi ini, selamatkan hutan kita

Tata Mandong

Sang penjaga Gunung Bawakaraeng ini bernama Tata Mandong. Memang, namanya tak setenar nama Mbah Maridjan sang penjaga Gunung Merapi di wilayah Yogyakarta, adalah pahlawan lingkungan yang patut di apresiasi. Bertemu dengannya di kaki gunung Bawakaraeng, Anda akan mengerti arti kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan.


www.belantaraindonesia.org

Tubuh itu semakin membungkuk, keriput, namun tetap tegar menghadapi hidup. Tata Mandong, begitu kakek ini disebut, sudah 30 tahun mengabdikan dirinya demi menjaga keseimbangan alam Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan.

Tata Mandong bukanlah sosok pahlawan yang dikenal banyak orang. Di sela mulutnya terselip lintingan tembakau. Asap terhembus, pelan, nikmat, ditelan udara. Rambutnya memutih termakan usia, namun senyumnya selalu tersungging tatkala memberikan petuah bijak.

Tak ada yang tahu kapan ia dilahirkan, tak pernah pula dia memberi jawaban saat ditanya. Umurnya, ditaksir dari kondisi fisik, sekitar 60 tahun. Dia biasa di sapa Tata Mandong, pahlawan dari Tanah Bawakaraeng.

www.belantaraindonesia.org
Tata Mandong
 Persis di kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, lembah indah terbentang. Hijau, bagai permadani yang terhampar. Lembah itu bernama Lembah Ramma. Butuh waktu minimal 4 jam untuk mencapai lembah ini dari desa terakhir, melewati perbukitan dan beberapa sungai.

Menuju Lembah Ramma hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki dengan jalur yang sempit dan banyaknya pohon tumbang. Ya, di tengah sini, di lembah indah ini, Tata Mandong tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana. Rumah itu berukuran 3x4 meter persegi. Tak ada listrik, apalagi televisi.

Rumah panggung yang terbuat dari beberapa potongan kayu dengan lantai setinggi 1 meter tersebut hanya terdiri dari dua ruangan. Dapur yang menyatu dengan ruang tamu, dan sebuah kamar tidur. Dasar rumahya digunakan sebagai tempat berteduh untuk ketiga anjingnya. Teman setia yang menemani dirinya ketika sepi dan menjaga dirinya dari babi hutan.

Hanya sebuah radio usang satu - satunya barang 'termewah' yang ia punya. Itu pun pemberian dari salah seorang mahasiswa yang berkunjung ke rumahnya. Seorang pria seusianya seharusnya istirahat dengan tenang di rumah sambil menikmati koran atau bercanda dengan cucu tercinta. Tata Mandong hanya bermukim sendirian di tengah hutan, tanpa fasilitas mewah satu pun. Hanya manusia luar biasa yang mampu melaluinya.


www.belantaraindonesia.org
Rumah Tata Mandong Di Tengah Gunung
Sudah sekitar 30 tahun Tata Mandong mengabdikan dirinya demi menjaga keseimbangan alam Gunung Bawakaraeng. Setiap hari ia menanam bibit pohon yang sebelumnya telah disemai di halaman rumahnya. Bibit - bibit tersebut diharapkan dapat menjadi penahan banjir kelak nantinya.

Ia cerita tentang kasus longsor pada tanggal 26 Maret 2004 di sekitar Gunung Bawakaraeng yang menyebabkan 32 warga kampung Lengkese, Desa Manihoi, Kecamatan Tinggi Moncong, tewas. Puluhan rumah, ternak dan sekolah pun tertimbun endapan longsor.

Saat itu warga baru saja menyelesaikan ibadah salat Jumat. Ada yang kembali beraktivitas bertani di sawah, atau membawa ternak ke padang rumput. Ada pula yang langsung istirahat di rumah. Tak ada yang menyangka, sebab tak ada tanda - tanda bahwa akan adanya longsor. Semua berlangsung begitu cepat. Warga tak mampu menyiapkan diri.

Tata Mandong tak mampu berbuat banyak saat itu. Ia terlambat memberitahu warga tentang bencana ini. Ia hanya manusia biasa yang memiliki tenaga rata - rata dan harus berpacu melawan endapan longsor sepanjang 30 kilometer dengan ketebalan mencapai 400 - 500 meter tersebut.

www.belantaraindonesia.org
Rumah Tata Mandong
Sebelumnya, ia mendengar suara gemuruh di atas lereng dan menduga itu adalah salah satu lereng yang akan longsor. Dugaan beliau tepat, tak lama kemudian terjadilah bencana longsor tersebut. Tata Mandong sangat sedih dengan bencana ini.

Dedikasi Tata Mandong sungguh luar biasa dan benar - benar total. Setiap pagi ia akan menggapai puncak Tallung untuk mengamati kondisi gunung sambil mengawasi aktivitas ternak - ternak warga yang beliau gembalakan. Sebab, ia bisa mengamati semuanya dari puncak Tallung. Ia tak punya teropong untuk melihat detail - detail kondisinya. Hanya dengan mata telanjang dan pengalamanlah ia menafsirkan semuanya.

Tata Mandong adalah orang yang akan dimintai nasehat oleh warga tentang kondisi Gunung Bawakaraeng untuk melanjutkan aktivitas bertani dan beternak. Tak jarang pula ia menjadi tim penyelamat ketika ada pendaki yang hilang dan tersesat.

Yang membuat pilu, Tata Mandong hanya dibayar Rp 150.000 per bulan oleh Dinas Kehutanan untuk membayar bentuk dedikasinya tersebut. Sungguh ironis memang. Untuk kehidupan sehari - harinya beliau mengandalkan ikan empang yang dipelihara. Atau sedikit sumbangan dari rekan - rekan pendaki yang rata - rata setiap akhir pekan mengunjungi rumahnya. Dan kalau terpaksa, Tata Mandong akan berjalan kaki menuju pasar Malino.

Tata Mandong hanya pria biasa. Pria normal yang membutuhkan wanita sebagai istri yang menopang dirinya dan anak - anak yang menceriakan hari - harinya. Tahun 1986, Maniah, istri yang dicintainya, meninggalkan dirinya karena tak tahan dengan kondisi miskin yang menimpa keluarganya. Gaji sebagai penanam bibit sebesar Rp 150.000 menurutnya tak mampu menopang perekonomian keluarga.

Maniah membawa serta anak semata wayang mereka, Fatimah. Hal inilah yang masih menjadi ganjalan di hati Tata Mandong. Beliau menyimpan kerinduan yang mendalam kepada keluarga yang dia cintai. Beliau ingin melihat wajah cantik putrinya yang kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Sekali lagi, sebuah keadaan yang sangat luar biasa dan hanya mampu dilalui oleh manusia yang luar biasa pula.

Tata Mandong, meski tak setenar Mbah Maridjan, adalah pahlawan lingkungan yang patut diapresiasi. Bertemu dengannya di kaki Gunung Bawakaraeng, Anda akan mengerti arti kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan.