Rabu, 27 Februari 2013

Ayah

Sayapku' tlah patah, kalo bisa, aku ingin waktu diputar kembali, aku ingin menciumnya memeluknya dengan erat, aku rindu pada kata nasehatnya, aku kangen sekali sama ayahku,  perginya tanpa pamit meski aku disisinya memeluknya dengan erat dan tertidur dipundaknya, tapi dia tetap juga pergi tanpa pamit waktu aku bangun sekitar jam 2.30 pagi, Ayahku tlah pergi, masih banyak janjiku padanya yang belum lunas.

Ibuku adaLah...

 Menggali makna ibu mungkin tak cukup tertampung dalam lembaran kertas. Bagi seorang anak, ibu telah termaknai sejak berabad-abad silam. Entah tersurat atau tidak, setiap anak telah memaknai kehadiran ibu dalam kehidupan. Sayapun merasakan dan menghayati sosok ibu yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mendidik saya.
Masing-masing kita sebagai seorang anak memiliki pemaknaan tersendiri terhadap seorang ibu. Pemaknaan ini boleh jadi berbeda meskipun tak menutup kemungkinan berada dalam kesimpulan serupa. 
 Bagiku..IBUKU bukan hanya seorang perempuan kuat yang berjuang membesarkan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayangnya yang tak akan pernah habis terkikis waktu. seribu bidadaripun tidak akan pernah bisa mengalahkan sosok IBUKU..yah..IBUKU..ibu yang mengorbankan segalanya untuk kami anak-anaknya. ibu rela menjual segala perhiasannya, untuk membiayai kami sekolah. ibu yang rela banting tulang sejak kepergian ayah setahun yang lalu. rela berjualan di pinggir jalan demi membiayai kuliahku yang tak sedikit banyak memerlukan uang yang banyak. Dia bangun sejak dini hari, saat orang lain terlena dengan mimpinya, mempersiapkan segala jajanan warungnya. berangkat dipagi hari demi mengharap berkah untuk hari ini. dari pagi-pagi buta ia mendorong gerobak jualannya untuk dibawanya ke kios yang selama ini menghidupiku. sepanjang hari..hanya doa-doa yang terlantur dari mulutnya..berharap jualannya bisa laris manis hingga tak ada yang tersisa. rejeki kadang berpihak pada wanita yang sudah tergolong tua itu, wajahnya yang sudah dipenuhi kerutan juga bisa tersenyum manis. namun saat rejeki memilih orang lain untuk didatangi, ibuku hanya bisa berdoa. berdoa agar besok ada rejeki yang lainnya. tubuh berpostur mungil itu kini sendirian duduk merenung di dalam kiosnya. dulu, tepatnya setahun yang lalu saat ibuku lelah menunggu pembeli selalu ada yang menggantikannya. namun sekarang lelaki itu lebih memilih untuk bahagia disisi Tuhan. ke enam anaknya jauh merantau mencari kehidupan lain yang layak. salah satunya adalah saya. kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup dikenal dikota Makassar ini. lagi-lagi ini berkat ibuku. karena perjuangannya saya bisa dikuliahkan. 
 Tapi terkadang tak ada yang bisa seperti ibuku. mungkin saya anak yang masih kurang bersyukur dengan semua yang telah diberikan ibu. dulu, sebelum kepergian ayah saya masih bisa selalu meronta-ronta jika minta sesuatu dan tidak dibelikan. memEcahkan barang-barang, berkata kasar dan bahkan mengacuhkan ibuku. hingga karena lelah dengan sikap kekanak-kanakanku semua keinginanku selalu dipenuhinya. saya biasa membohongi ibu dengan mengatasnamakan pembayaran kuliah padahal hanya ingin membeli sesuatu untuk keperluan pribadiku dan kesenanganku belaka. tapi kini semua kusadari saya tak pernah lagi melakukannya sejak kepergian ayah. 
   pernah suatu waktu pada saat ibuku selesai sholat subuh dan saya masih tertidur namun masih mendengar apa yang ibuku ucapkan dalam doanya, diam-diam saya mendengarnya tanpa sepengetahuan ibu. air mataku tak terasa menetes dengan perlahan mendengar apa yang ibuku minta pada Tuhan, bibirku gemetar dan hatiku seakan perih waktu itu.betapa tidak bersyukurnya diriku ini. di dalam doanya saya mendengar dengan nyaringnya ibu mendoakan tentang kami anak-anaknya, terutama tentang saya yang berharap agar kuliahku dilancarkan jalannya dan mendapat kesuksesan yang melimpah. berkali-kali kudengar namaku disebutnya dihadapan Tuhan. *saat menulis ini jari-jariku terhenti..aku masih mengingatnya..aku menangis lagi
  Sejak saat itu aku mulai sadar dan tak pernah mengeluh lagi tentang hidupku. saya ingin mengabulkan semua harapan ibuku dan almarhum ayah yang belum sempat melihat kesuksesanku sebelum ia pergi. 
  maafkan saya ibu, saat ini saya belum bisa memberikan apapun untukmu, saya belum bisa sukses namun saya berjanji saya tak akan pernah mengecewakanmu lagi. saya akan sukses. insya Allah dan itu dengan doa-doamu. 
ibuku adalah semanagat hidupkuh.makin tua makin cantik. :)

*terima kasih untuk ibuku Hj.ST.Nurbiah Dg.Capo