Kau menyebut dirimu bunga Edelweiss,
Awalnya aku seorang pendaki,
dalam perjalananku menuju puncak gunung Bawakaraeng aku melihatmu dari jauh,
namun tak pernah ada niat untuk memetikmu,
karena selain tempatmu tumbuh terlalu jauh dari tempatku berpijak saat itu,
aku juga berfikir akan kuletakkan dimana nanti jika kuakhiri petualanganku dan telah tiba di peraduanku,
Akhirnya akupun berlalu tanpa sedikitpun menoleh padamu,
setelah kumelangkahkan kakiku untuk segera pulang,
dikaki gunung Bawakaraeng kudapati seorang anak lelaki kecil penjual bunga Edelweiss,
Ia berlari kearahku,seolah-olah telah lama kenal denganku,
akupun menunggu kakinya berhenti tepat didepanku,
Ia memberiku sekuntum bunga Edelweiss sambil tersenyum dengan mimik muka yang amat sangat sayang untuk ditolak,
dengan rasa kasihan,kuraih Edelweiss dari tangan mungilnya,
belum juga kutanyakan namanya, dan memberinya sedikit uang sebagai pengganti bunganya,Ia segera berlari menjauh dariku
kupanggilnya sambil menunjukkan uang untuknya, namun Ia hanya tersenyum dengan penuh rasa puas,
sembari berkata " dia tak memerlukan uangmu Nona, dia hanya butuh kau tersenyum indah karena kehadirannya",
Aku tersentak dan kemudian tertegun sambil menikmati jejak kaki yang ditinggalkan anak lelaki kecil tadi,
dia hanya menginginkan senyumku?????
kutatap sekuntum bunga Edelweiss itu dengan penuh tanda tanya,darimanakah gerangan bunga ini?
mungkinkah dia bunga yang sama yang kulihat di puncak gunung kemarin?
akhirnya kubungkus tanyaku dalam hati seraya mengingat pesan si lelaki kecil tadi,
memberinya senyum terindahku,
senyum penuh rasa puas karena telah mendapatkan anugerah tanpa harus meraihnya dengan susah payah,
sejak saat itu,
Bunga Edelweiss ku selalu menemaniku kemanapun aku berada,
dia mendapat tempat khusus dalam kamarku,
ada Vas bunga yang trbuat dari rotan warna coklat yang sudah sangat usang buatan ayahku dulu,
aku menyandingkannya dengan buatan ayahku karena aku tahu bahwa vas
bunga rotan coklat dan Edelweiss adalah lambang kesetiaan untukku,
dia akan betah tanpa harus kurawat tiap hari,
tanpa butuh kusiram dengan air,
jangan pernah beranjak jauh Edelweiss ku,
tetaplah disitu,,
bersama kenangan indahku,
karena aku ,vas bunga rotan coklat dan kamu adalah bukti kesederhanaan rasa yang akan abadi..
#teruntukmu Bunga Edelweiss ku, akan ada tempat khusus untukmu di hatiku
Setiap perjalanan selalu menyisakan cerita tersendiri dalam hidup. ia akan abadi kekal diingatan.
Jumat, 03 Mei 2013
aku ,vas bunga rotan coklat dan bunga Edelweiss ku.
AKU RANTING KECIL YANG PATAH UNTUKMU
Aku mungkin bukan bunga yang terindah untukmu, sungguh tak pernah bermimpi untuk jadi bunga terindahmu,
karena aku bukan apa - apa,
Aku mungkin bukan pelangi yang indah dilangitmu setelah hujan turun, sungguh tak pernah berharap menjadi pelangi untukmu,
karena masih aku bukan apa - apa,
Aku juga mungkin bukan seorang bidadari dari kayangan untukmu, karena sungguh terlalu naif untukku jika berkhayal jadi bidadarimu,
karena aku bukan siapa - siapa.
aku hanya ingin jadi ranting kecil yang patah di dalam hutan, yang bisa selalu setia berada di tanganmu jika kau punguti aku di antara semak belukar yang tanpa sengaja menghalangi jalanmu,
pungutlah aku,
aku rela kau jadikan kayu yang harus kau bakar sekalipun untuk sedikit menghangatkan tubuhmu dalam perjalanan kesendirianmu,
bahkan aku rela hangus sampai menjadi arang dan akhirnya menjadi abu, dan asap dari tubuhku mampu disaksikan oleh dunia bahwa aku akan ada sampai semua bagian dari tubuhku punah dan hancur untukmu.
akan kurayu embun di dedaunan, agar tak muncul dahulu, sebelum asap ku hilang di terpa angin, agar kau tahu bahwa aku pun menghilang karenamu,
akan kurayu matahari agar tak muncul dahulu, biar kau lama merasakan kehangatan yang kuberikan,walaupun itu tak akan lama,
karena aku tak punya sifat kekal, sayang
aku tak bisa merayu Tuhan untuk meneteskan kekekalanNYA padaku,
aku hanya ranting kecil yang patah,
yang bukan apa - apa ,
bukan siapa - siapa,
namun yang pasti aku menyayangimu lebih dari sayangnya pohon besar yang jadi tempat bernaungmu
karena dia tak rela hilang karenamu..
dia hanya mampu melihatmu, tanpa bisa kau punguti,
dan menempel ditanganmu,
dia tak mungkin mau membakar dirinya untuk jadi asap demi menghangatkanmu,
aku hanya ranting kecil yang patah untukmu
SAYA, TUHANKU DAN BILANGAN BINER
saya tertarik membahas hubunganku dengan Zat yang kupanggil dengan sebutan TUHAN dalam sebuah sistem bilangan yang dikenal dengan Bilangan Biner.
sebelumnya ijinkan saya menjelaskan mengenai Pengertian Bilangan Biner terlebih dahulu.Bilangan Biner atau binary atau binary digit (dapat disingkat menajdi bit) adalah salah satu jenis dari sistem bilangan yang ada. Bilangan Biner terdiri dari angka 0 dan 1.
Bilangan Biner umum digunakan pada dunia komputasi. Komputer menggunakan Bilangan Biner agar bisa saling berkomunikasi antar komponen (hardware) maupun antar sesama komputer. Karena komputer hanya menggunakan bahasa mesin, yaitu apabila komputer mendapatkan sinyal listrik atau tegangan listrik (Volt), berarti bernilai 1. Apabila komputer tidak mendapatkan sinyal listrik atau tegangan listrik, berarti bernilai 0.
Bilangan Biner juga digunakan untuk berkomunikasi antar sesama komputer dalam suatu jaringan. Karena komputer hanya mengerti Bilangan Biner, maka komputer menstransmisikan sinyal-sinyal listrik ke perangkat jaringan untuk bisa berkomunikasi satu sama lain. Bilangan Biner sangat penting dalam menyusun suatu jaringan komputer. Untuk menyusun suatu IP Address, Bilangan Biner sangatlah diperlukan.
sekarang mari kita kembali ke hubunganku dengan TUHAN,
saya menyederhanakan penggambaran hubungan kami dengan hal yang sangat sederhana,
karena bagiku hubungan dalam kesederhanaan itu adalah hubungan yang dahsyat.
Bilangan Biner hanya mengenal dua angka yaitu 0 dan 1, diantara banyak bilangan ternyata hanya ada dua bilangan yang terpilih,
itulah sisi uniknya menurutku,seunik hubungan kami.
Diantara banyak ornamen di dunia ini maka yang aku pilih dalam tulisan ini hanya saya dan TUHAN.
sangat privacy...
saya adalah angka 0
dan TUHAN ku adalah angka 1,
jika saya tanpa TUHAN maka saya bukanlah apa-apa, tak berarti apa-apa, hanya sebuah angka 0 yang berarti kosong tak terisi sama sekali.
Namun jangan salah, jika saya bersama TUHAN ku, maka saya tak hanya sebagai angka 0 semata karena saya dan TUHAN = 0 + 1 = 1
angka 1 sudah tak berarti kosong kan?
angka satu berarti ada,
sama dengan bilangan biner dalam dunia komputasi, jika menunjukkan angka 1 berarti komputer mendapatkan sinyal listrik,
itulah yang kurasakan, kehadiran TUHAN bagiku adalah sinyal, sinyal yang lebih kuat dari sinyal listrik.
sinyal itu adalah power buatku, kekuatan yang maha besar, jika mampu kumaksimalkan maka dunia serasa berada dalam genggaman.
kita terbiasa menggunakan akal fikiran kita untuk hal-hal yang rumit,bahkan hubungan dengan TUHAN pun seakan - akan hal yang sangat rumit buat sebagian orang, padahal jika kita mau menyederhanakannya maka akan sangat sederhanalah jadinya.
semua makhluk ciptaaan TUHAN pun bisa disederhanakan dalam angka,
saya mengibaratkan kalian adalah sederetan angka, tiap kita punya angka sebagai nama, terserah mau angka berapa saja,
angka kalian adalah variable yang kalian dapat dari TUHAN,
misalkan angka ANDA adalah 2 , angka 2 berasal dari 1 + 1 berarti dalam angka ANDA akan selalu ada angka TUHAN yaitu 1,
selanjutnya untuk angka 3, angka 3 berasal dari 2 + 1 sama juga dengan 1 + 1 + 1, masih juga ada angka 1, dan masih juga ada TUHAN disana.
begitu seterusnya, berapapun angka ANDA maka disitu akan terletak angka TUHAN.
dari uraian tentang angka ini, saya hanya ingin mempertegas bahwa ANDA tak bisa lepas dari ZAT yang kalian panggil TUHAN itu.
berapapun ANDA, siapapun ANDA, TUHAN akan selalu ada untuk kita.
karena kita punya ZAT yang berasal dari DIA. Nah tugas kitalah mencari angka 1 dalam diri, mencari ZAT itu, mencari sesuatu yang telah dititipkan TUHAN untuk kita sebelum kita mendunia.
bukankah tujuan kita mendunia hanya untuk mencari angka 1 itu ?
bukankah dunia beserta isinya, dan semua cerita didalamnya hanyalah senda gurau belaka kata TUHAN ?
semua hanya ornamen pemanis kehidupan, yang terkadang mengaburkan tujuan kita sebenarnya.
DIA menciptakan dunia lengkap dengan isinya untuk menguji kita, seberapa teguh kita mempertahankan jalan kita menuju tujuan utama kita mendunia.
sungguh MAHA KUASA TUHAN atas segala yang diciptakanNYA.
bahagia rasanya menceritakan hubungan kami dalam angka sesederhana bilangan BINER,
Selasa, 05 Maret 2013
Sekilas Pertemuanku dengan Sang Legendaris "Herman Lantang"
2 Februari 2013 lalu, pertama kali saya mengenal sosok Herman lantang dalam sebuah pelantikan organisasi pemerhati lingkungan "Garuda Nusantara" yang di ketuai oleh Bunda Ully Sigar Rusady. sosoknya yang tak lagi muda namun masih terlihat kekar dengan sepasang tongkat yang menopang tubuhnya. masih lihai dalam berbicara dengan semangatnya yang masih bergejolak menjelaskan riwayat hidupnya. Opa, begitulah kami memanggilnya, adalah lulusan mahasiswa jurusan antropologi di FSUI. Dia juga salah satu pendiri Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI dan pernah mengetuai organisasi itu pada periode '72—'74.
Bersama sahabatnya,Soe Hoe Gie dia juga menjadi inspirator gerakan demo long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno pasca G 30 S dan semasa Tritura.
Opa Herman Lantang memang salah satu tokoh faforit yang selalu saya banggakan. memang saya baru bertemu dengan beliau baru-baru ini, namun saya lebih dulu mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang tak pernah lepas dari Gie-Mapala dan semeru. Sampai sebelum film biografi "GIE" muncul di layar perak, tak banyak orang yang menggubris kehadiran tokoh yang satu ini, kecuali, lagi - lagi, komunitas pencinta alam, yang sangat mengagungkan sikapnya yang tetap rendah hati.
Sebenarnya, pria tua yang kini lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah, dilahirkan di sudut kota kecil Tomohon, sebuah kota administrasi di propinsi Sulawesi Utara, 67 tahun silam. Dalam buku baptisnya ia diberi nama: Herman Onesimus Lantang. Kegemarannya terhadap alam pun mulai timbul ketika ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai tentara sering mengajaknya keluar - masuk hutan di kawasan Tomohon untuk berburu. Dari situ, lambat laut, kecintaannya terhadap hutan yang sarat aroma sarasah dan petualangan timbul.
"perkenalkan ini mukhrim gue" begitulah opa memperkenalkan istrinya tercinta, oma joyce, begitu sapaan akrabnya. "kemanapun gue pergi mukhrim gue selalu setia nemenin gue".tuturnya dengan terus memandangi wajah cantik oma joyce yang sejak tadi tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang sangat mengagumi istrinya. Menularkan kecintaan pada gunung dilakukan Herman sejak awal kepada istrinya, Joyce Moningka, dan dua anak mereka, Erol Lantang dan Cernan Lantang. Langkah pertama adalah pada sang istri yang bukan ”anak gunung”, karena paling banter piknik ke kawasan pegunungan. Awalnya, Herman membawa mereka ke lembah Mandalawangi - Pangrango.
"Gue kawin telat. Usia gue waktu itu 41 tahun sedangkan istri saya 29 tahun. Beda usia kami jauh sekali, tapi kami sangat mesra sampai sekarang karena ya itu tadi, sering jalan - jalan ke gunung."tuturnya.
opa sangat bersemangat dalam menceritakan pengalaman hidupnya kepada kami. setiap kata yang terlontar dari mulutnya seakan meresap masuk kedalam otakku, disana kata-kata itu berputar-putar, dan saya seakan berada dimasa dimana dia mengalami hal yang sedang dia ceritakan. cerita yang benar-benar hidup. sungguh sosok inspiratif menurutku. opa juga tak henti-hentinya menceritakan tentang sahabat karibnya"Gie". dengan menunjuk setiap foto yang terpampang dalam slide..........
*bersambung dulu yah :)
Opa Herman Lantang memang salah satu tokoh faforit yang selalu saya banggakan. memang saya baru bertemu dengan beliau baru-baru ini, namun saya lebih dulu mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang tak pernah lepas dari Gie-Mapala dan semeru. Sampai sebelum film biografi "GIE" muncul di layar perak, tak banyak orang yang menggubris kehadiran tokoh yang satu ini, kecuali, lagi - lagi, komunitas pencinta alam, yang sangat mengagungkan sikapnya yang tetap rendah hati.
Sebenarnya, pria tua yang kini lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah, dilahirkan di sudut kota kecil Tomohon, sebuah kota administrasi di propinsi Sulawesi Utara, 67 tahun silam. Dalam buku baptisnya ia diberi nama: Herman Onesimus Lantang. Kegemarannya terhadap alam pun mulai timbul ketika ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai tentara sering mengajaknya keluar - masuk hutan di kawasan Tomohon untuk berburu. Dari situ, lambat laut, kecintaannya terhadap hutan yang sarat aroma sarasah dan petualangan timbul.
"perkenalkan ini mukhrim gue" begitulah opa memperkenalkan istrinya tercinta, oma joyce, begitu sapaan akrabnya. "kemanapun gue pergi mukhrim gue selalu setia nemenin gue".tuturnya dengan terus memandangi wajah cantik oma joyce yang sejak tadi tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang sangat mengagumi istrinya. Menularkan kecintaan pada gunung dilakukan Herman sejak awal kepada istrinya, Joyce Moningka, dan dua anak mereka, Erol Lantang dan Cernan Lantang. Langkah pertama adalah pada sang istri yang bukan ”anak gunung”, karena paling banter piknik ke kawasan pegunungan. Awalnya, Herman membawa mereka ke lembah Mandalawangi - Pangrango.
"Gue kawin telat. Usia gue waktu itu 41 tahun sedangkan istri saya 29 tahun. Beda usia kami jauh sekali, tapi kami sangat mesra sampai sekarang karena ya itu tadi, sering jalan - jalan ke gunung."tuturnya.
opa sangat bersemangat dalam menceritakan pengalaman hidupnya kepada kami. setiap kata yang terlontar dari mulutnya seakan meresap masuk kedalam otakku, disana kata-kata itu berputar-putar, dan saya seakan berada dimasa dimana dia mengalami hal yang sedang dia ceritakan. cerita yang benar-benar hidup. sungguh sosok inspiratif menurutku. opa juga tak henti-hentinya menceritakan tentang sahabat karibnya"Gie". dengan menunjuk setiap foto yang terpampang dalam slide..........
*bersambung dulu yah :)
Gunung Bukan Tempat sampah!
Mendaki gunung memang kegiatan yang sangat menyenangkan bagi sebagian kalangan yang hoby melakukan petualangan di alam bebas. banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan kembali ke alam bebas, salah satunya terbebas dari hiruk pikuk kota metropolitan yang semakin tidak bersahabat. mulai dari pencemaran udara yang sudah tak terkendali, kesibukan selama bekerja, serta hal lain yang membuat kita gerah menghadapi gerlapnya kehidupan kota. namun dengan sedikit refresing dengan melakukan pendakian kita seakan kembali bersemangat menghadapi kehidupan secara normal. udara yang masih bersih dan pemandangan alam yang luar biasa dapat menghilangkan stres dan beban pikiran yang menghantui kita.
Namun saya merasa sangat miris dengan keadaan gunung sekarang ini. sampah ada dimana-mana. dan tentunya yang melakukan itu semua adalah kita yang mengaku diri adalah seorang PENCINTA ALAM DAN LINGKUNGAN. dimana sebenarnya letak kecintaan kita? ketika melihat gunung dan hutan dalam keadaan yang kotor dan kita seakan membiarkan hal itu terjadi. sampah plastik dimana-mana. mulai dari kaleng bekas minuman, kaleng bekas makanan instan, plastik mie instan, pembungkus permen, dan bahkan puntung rokok ada dimana-mana. bukan hanya sekali pendakian saya merasa sangat prihatin, bukan cuma satu gunung yang kondisinya seperti itu namun setiap kali mendaki di gunung yang berbeda saya menyaksikan pemandangan yang kurang menyenangkan. kemanakah kode etik kita? harusnya di gununglah teori kecintaan kita di aplikasikan dengan kesadaran diri sendiri untuk tidak lagi membuamg sampah sembarangan dan kalau perlu sampah itu kita bawa kembali kerumah.bukan malah di diamkan di situ, atau bahkan kita biasa membakarnya. bayangkan saja jika kita membakar sampah itu maka yang terjadi adalah pencemaran udara dan akibat yang terfatal ialah bisa menyebabkan kebakaran hutan.
Siapa saja berhak mendaki gunung. entah itu kalian yang memang sudah dari golongan pencinta alam maupun yang hanya ikut-ikutan untuk mencicipi keindahannya. namun perlu di ingat bahwasanya Satu hal yang perlu kita garis bawahi bahwa GUNUNG BUKANLAH TEMPAT SAMPAH! yah..gunung memang bukan tempat sampah yang setelah kita nikmati, telanjangi dan cicipi keindahan serta keelokannya lalu mengotorinya begitu saja.kepribadian sesungguhnya terbentuk ketika kita telah berada di alam bebas. berbuat baiklah terhadap alam maka alam akan baik terhadapmu. Laladt Mdpl
Tissue..Perusak Hutan!
Tissue, merusak hutan dunia! Tahukah Anda dengan Tisuue? Ya, benda yang
sangat umum dan sering di gunakan oleh hampir manusia di dunia. Biasanya
di gunakan untuk membersihkan tangan, membersihkan barang, membasuh
muka dll. Tetapi tahukah Anda bahwa tissue juga bisa berbahaya untuk
kita dan dunia kita?
Bisa dikatakan penggunaan tissue dalam kehidupan sehari - hari memang terhitung praktis. Tetapi pernahkah terlintas di pikiran kita bagaimana asal muasal tissue sampai bisa digunakan oleh kita sehari - hari?
Tissue mulai dibuat sekitar tahun 1880 - an dari bahan baku kulit kayu yang dijadikan pulp ( bubur kertas ) dan sampai sekarang pun bahan baku dalam pembuatan tissue masih menggunakan kayu. Kayu yang didapat pastinya dari hasil penebangan pohon - pohon di hutan. Biasanya tissue di Indonesia menggunakan bahan baku dari pohon
Sadarkah kita bahwa penggunaan tissue yang berlebihan ikut mendukung kerusakan hutan? Dimisalkan saja Anda menggunakan 10 sheet tissue dalam sehari dari pemakaian untuk membersihkan tangan, mulut, atau pun hidung disaat sedang flu.
Apalagi saat sedang flu yang biasanya memerlukan banyak persediaan tissue. Dalam 1 pack tissue terdapat 20 sheet, dan ternyata dari 1 pohon berumur 6 tahun hanya bisa menghasilkan 2 pack tissue saja, 40 sheet lah jadinya. berarti dalam 4 hari saja kita sudah menghabiskan 1 pohon.
Padahal dari satu pohon itu bisa menghidupkan sekitar 3 orang. Bayangkan berapa jumlah orang disekitar anda yang menggunakan tissue setiap harinya. Pasti sangat banyak. Sampai saat ini pun Indonesia sudah kehilangan sekitar 72% hutan aslinya dan semakin haripun kerusakan hutan masih tetap berlanjut.
Penggunaan tissue dapat kita minimalisir dengan beralih menggunakan sapu tangan atau handuk. Memang penggunaannya tidak sepraktis memakai tissue yang sekali pakai bisa langsung di buang, sapu tangan harus dicuci agar dapat digunakan kembali.
Tetapi lihat saja manfaat penggunaan sapu tangan selain mengurangi kerusakan hutan, kita juga membantu mengurangi penumpukan sampah. Jika dilihat dari segi produksinya, menghemat penggunaan tissue dapat mengurangi pemborosan energi dan air saat proses produksi.
Belum lagi dampak negatif lainnya dari segi kesehatan yakni dari penggunaan tissue yang berlebihan. Kita kerap menggunakannya untuk mengambil atau membungkus makanan, misalnya gorengan, untuk menghindari tangan kotor atau menyerap minyak yang berlebihan pada makanan tersebut. Padahal, zat kimia yang terkandung dalam kertas tissue, kata Sapto Nugroho Hadi, dari Departemen Biokimia IPB, dapat bermigrasi ke makanan.
Zat ini disebut pemutih klor yang memang ditambahkan dalam pembuatan kertas tissue agar terlihat lebih putih dan bersih. Zat ini bersifat karsinogenetik ( pemicu kanker ). Hal yang sama juga terjadi pada kertas yang lain, entah kertas koran atau majalah, yang sering dipakai untuk membungkus makanan.
Kertas - kertas ini mengandung timbal ( Pb ) yang bisa berpindah kemakanan karena panas makanan.Timbal yang masuk ketubuh akan meracuni tubuh dan menyebabkan beragam gangguan, dari kondisi pucat sampai lumpuh.
Dengan mengetahui berbagai plus minus penggunaan tissue kami mengajak Anda semua untuk mengurangi penggunaan tissue dan mulai beralih menggunakan saputangan sejak detik ini. Semua berawal dari sesuatu yang sederhana untuk hutan kita, sebab hutan adalah titipan Sang Pencipta untuk cucu - cucu kita nantinya. Sayangi bumi ini, selamatkan hutan kita
Bisa dikatakan penggunaan tissue dalam kehidupan sehari - hari memang terhitung praktis. Tetapi pernahkah terlintas di pikiran kita bagaimana asal muasal tissue sampai bisa digunakan oleh kita sehari - hari?
Tissue mulai dibuat sekitar tahun 1880 - an dari bahan baku kulit kayu yang dijadikan pulp ( bubur kertas ) dan sampai sekarang pun bahan baku dalam pembuatan tissue masih menggunakan kayu. Kayu yang didapat pastinya dari hasil penebangan pohon - pohon di hutan. Biasanya tissue di Indonesia menggunakan bahan baku dari pohon
Sadarkah kita bahwa penggunaan tissue yang berlebihan ikut mendukung kerusakan hutan? Dimisalkan saja Anda menggunakan 10 sheet tissue dalam sehari dari pemakaian untuk membersihkan tangan, mulut, atau pun hidung disaat sedang flu.
Apalagi saat sedang flu yang biasanya memerlukan banyak persediaan tissue. Dalam 1 pack tissue terdapat 20 sheet, dan ternyata dari 1 pohon berumur 6 tahun hanya bisa menghasilkan 2 pack tissue saja, 40 sheet lah jadinya. berarti dalam 4 hari saja kita sudah menghabiskan 1 pohon.
Padahal dari satu pohon itu bisa menghidupkan sekitar 3 orang. Bayangkan berapa jumlah orang disekitar anda yang menggunakan tissue setiap harinya. Pasti sangat banyak. Sampai saat ini pun Indonesia sudah kehilangan sekitar 72% hutan aslinya dan semakin haripun kerusakan hutan masih tetap berlanjut.
Penggunaan tissue dapat kita minimalisir dengan beralih menggunakan sapu tangan atau handuk. Memang penggunaannya tidak sepraktis memakai tissue yang sekali pakai bisa langsung di buang, sapu tangan harus dicuci agar dapat digunakan kembali.
Tetapi lihat saja manfaat penggunaan sapu tangan selain mengurangi kerusakan hutan, kita juga membantu mengurangi penumpukan sampah. Jika dilihat dari segi produksinya, menghemat penggunaan tissue dapat mengurangi pemborosan energi dan air saat proses produksi.
Belum lagi dampak negatif lainnya dari segi kesehatan yakni dari penggunaan tissue yang berlebihan. Kita kerap menggunakannya untuk mengambil atau membungkus makanan, misalnya gorengan, untuk menghindari tangan kotor atau menyerap minyak yang berlebihan pada makanan tersebut. Padahal, zat kimia yang terkandung dalam kertas tissue, kata Sapto Nugroho Hadi, dari Departemen Biokimia IPB, dapat bermigrasi ke makanan.
Zat ini disebut pemutih klor yang memang ditambahkan dalam pembuatan kertas tissue agar terlihat lebih putih dan bersih. Zat ini bersifat karsinogenetik ( pemicu kanker ). Hal yang sama juga terjadi pada kertas yang lain, entah kertas koran atau majalah, yang sering dipakai untuk membungkus makanan.
Kertas - kertas ini mengandung timbal ( Pb ) yang bisa berpindah kemakanan karena panas makanan.Timbal yang masuk ketubuh akan meracuni tubuh dan menyebabkan beragam gangguan, dari kondisi pucat sampai lumpuh.
Dengan mengetahui berbagai plus minus penggunaan tissue kami mengajak Anda semua untuk mengurangi penggunaan tissue dan mulai beralih menggunakan saputangan sejak detik ini. Semua berawal dari sesuatu yang sederhana untuk hutan kita, sebab hutan adalah titipan Sang Pencipta untuk cucu - cucu kita nantinya. Sayangi bumi ini, selamatkan hutan kita
Tata Mandong
Sang penjaga Gunung Bawakaraeng ini bernama Tata Mandong. Memang,
namanya tak setenar nama Mbah Maridjan sang penjaga Gunung Merapi di
wilayah Yogyakarta, adalah pahlawan lingkungan yang patut di apresiasi.
Bertemu dengannya di kaki gunung Bawakaraeng, Anda akan mengerti arti kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Tubuh itu semakin membungkuk, keriput, namun tetap tegar menghadapi hidup. Tata Mandong, begitu kakek ini disebut, sudah 30 tahun mengabdikan dirinya demi menjaga keseimbangan alam Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan.
Tata Mandong bukanlah sosok pahlawan yang dikenal banyak orang. Di sela mulutnya terselip lintingan tembakau. Asap terhembus, pelan, nikmat, ditelan udara. Rambutnya memutih termakan usia, namun senyumnya selalu tersungging tatkala memberikan petuah bijak.
Tak ada yang tahu kapan ia dilahirkan, tak pernah pula dia memberi jawaban saat ditanya. Umurnya, ditaksir dari kondisi fisik, sekitar 60 tahun. Dia biasa di sapa Tata Mandong, pahlawan dari Tanah Bawakaraeng.
Persis di kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan,
lembah indah terbentang. Hijau, bagai permadani yang terhampar. Lembah
itu bernama Lembah Ramma. Butuh waktu minimal 4 jam untuk mencapai
lembah ini dari desa terakhir, melewati perbukitan dan beberapa sungai.
Menuju Lembah Ramma hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki dengan jalur yang sempit dan banyaknya pohon tumbang. Ya, di tengah sini, di lembah indah ini, Tata Mandong tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana. Rumah itu berukuran 3x4 meter persegi. Tak ada listrik, apalagi televisi.
Rumah panggung yang terbuat dari beberapa potongan kayu dengan lantai setinggi 1 meter tersebut hanya terdiri dari dua ruangan. Dapur yang menyatu dengan ruang tamu, dan sebuah kamar tidur. Dasar rumahya digunakan sebagai tempat berteduh untuk ketiga anjingnya. Teman setia yang menemani dirinya ketika sepi dan menjaga dirinya dari babi hutan.
Hanya sebuah radio usang satu - satunya barang 'termewah' yang ia punya. Itu pun pemberian dari salah seorang mahasiswa yang berkunjung ke rumahnya. Seorang pria seusianya seharusnya istirahat dengan tenang di rumah sambil menikmati koran atau bercanda dengan cucu tercinta. Tata Mandong hanya bermukim sendirian di tengah hutan, tanpa fasilitas mewah satu pun. Hanya manusia luar biasa yang mampu melaluinya.
Sudah sekitar 30 tahun Tata Mandong mengabdikan dirinya demi menjaga
keseimbangan alam Gunung Bawakaraeng. Setiap hari ia menanam bibit pohon
yang sebelumnya telah disemai di halaman rumahnya. Bibit - bibit tersebut
diharapkan dapat menjadi penahan banjir kelak nantinya.
Ia cerita tentang kasus longsor pada tanggal 26 Maret 2004 di sekitar Gunung Bawakaraeng yang menyebabkan 32 warga kampung Lengkese, Desa Manihoi, Kecamatan Tinggi Moncong, tewas. Puluhan rumah, ternak dan sekolah pun tertimbun endapan longsor.
Saat itu warga baru saja menyelesaikan ibadah salat Jumat. Ada yang kembali beraktivitas bertani di sawah, atau membawa ternak ke padang rumput. Ada pula yang langsung istirahat di rumah. Tak ada yang menyangka, sebab tak ada tanda - tanda bahwa akan adanya longsor. Semua berlangsung begitu cepat. Warga tak mampu menyiapkan diri.
Tata Mandong tak mampu berbuat banyak saat itu. Ia terlambat memberitahu warga tentang bencana ini. Ia hanya manusia biasa yang memiliki tenaga rata - rata dan harus berpacu melawan endapan longsor sepanjang 30 kilometer dengan ketebalan mencapai 400 - 500 meter tersebut.
Sebelumnya, ia mendengar suara gemuruh di atas lereng dan menduga itu
adalah salah satu lereng yang akan longsor. Dugaan beliau tepat, tak
lama kemudian terjadilah bencana longsor tersebut. Tata Mandong sangat
sedih dengan bencana ini.
Dedikasi Tata Mandong sungguh luar biasa dan benar - benar total. Setiap pagi ia akan menggapai puncak Tallung untuk mengamati kondisi gunung sambil mengawasi aktivitas ternak - ternak warga yang beliau gembalakan. Sebab, ia bisa mengamati semuanya dari puncak Tallung. Ia tak punya teropong untuk melihat detail - detail kondisinya. Hanya dengan mata telanjang dan pengalamanlah ia menafsirkan semuanya.
Tata Mandong adalah orang yang akan dimintai nasehat oleh warga tentang kondisi Gunung Bawakaraeng untuk melanjutkan aktivitas bertani dan beternak. Tak jarang pula ia menjadi tim penyelamat ketika ada pendaki yang hilang dan tersesat.
Yang membuat pilu, Tata Mandong hanya dibayar Rp 150.000 per bulan oleh Dinas Kehutanan untuk membayar bentuk dedikasinya tersebut. Sungguh ironis memang. Untuk kehidupan sehari - harinya beliau mengandalkan ikan empang yang dipelihara. Atau sedikit sumbangan dari rekan - rekan pendaki yang rata - rata setiap akhir pekan mengunjungi rumahnya. Dan kalau terpaksa, Tata Mandong akan berjalan kaki menuju pasar Malino.
Tata Mandong hanya pria biasa. Pria normal yang membutuhkan wanita sebagai istri yang menopang dirinya dan anak - anak yang menceriakan hari - harinya. Tahun 1986, Maniah, istri yang dicintainya, meninggalkan dirinya karena tak tahan dengan kondisi miskin yang menimpa keluarganya. Gaji sebagai penanam bibit sebesar Rp 150.000 menurutnya tak mampu menopang perekonomian keluarga.
Maniah membawa serta anak semata wayang mereka, Fatimah. Hal inilah yang masih menjadi ganjalan di hati Tata Mandong. Beliau menyimpan kerinduan yang mendalam kepada keluarga yang dia cintai. Beliau ingin melihat wajah cantik putrinya yang kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Sekali lagi, sebuah keadaan yang sangat luar biasa dan hanya mampu dilalui oleh manusia yang luar biasa pula.
Tata Mandong, meski tak setenar Mbah Maridjan, adalah pahlawan lingkungan yang patut diapresiasi. Bertemu dengannya di kaki Gunung Bawakaraeng, Anda akan mengerti arti kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Tubuh itu semakin membungkuk, keriput, namun tetap tegar menghadapi hidup. Tata Mandong, begitu kakek ini disebut, sudah 30 tahun mengabdikan dirinya demi menjaga keseimbangan alam Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan.
Tata Mandong bukanlah sosok pahlawan yang dikenal banyak orang. Di sela mulutnya terselip lintingan tembakau. Asap terhembus, pelan, nikmat, ditelan udara. Rambutnya memutih termakan usia, namun senyumnya selalu tersungging tatkala memberikan petuah bijak.
Tak ada yang tahu kapan ia dilahirkan, tak pernah pula dia memberi jawaban saat ditanya. Umurnya, ditaksir dari kondisi fisik, sekitar 60 tahun. Dia biasa di sapa Tata Mandong, pahlawan dari Tanah Bawakaraeng.
![]() |
| Tata Mandong |
Menuju Lembah Ramma hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki dengan jalur yang sempit dan banyaknya pohon tumbang. Ya, di tengah sini, di lembah indah ini, Tata Mandong tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana. Rumah itu berukuran 3x4 meter persegi. Tak ada listrik, apalagi televisi.
Rumah panggung yang terbuat dari beberapa potongan kayu dengan lantai setinggi 1 meter tersebut hanya terdiri dari dua ruangan. Dapur yang menyatu dengan ruang tamu, dan sebuah kamar tidur. Dasar rumahya digunakan sebagai tempat berteduh untuk ketiga anjingnya. Teman setia yang menemani dirinya ketika sepi dan menjaga dirinya dari babi hutan.
Hanya sebuah radio usang satu - satunya barang 'termewah' yang ia punya. Itu pun pemberian dari salah seorang mahasiswa yang berkunjung ke rumahnya. Seorang pria seusianya seharusnya istirahat dengan tenang di rumah sambil menikmati koran atau bercanda dengan cucu tercinta. Tata Mandong hanya bermukim sendirian di tengah hutan, tanpa fasilitas mewah satu pun. Hanya manusia luar biasa yang mampu melaluinya.
![]() |
| Rumah Tata Mandong Di Tengah Gunung |
Ia cerita tentang kasus longsor pada tanggal 26 Maret 2004 di sekitar Gunung Bawakaraeng yang menyebabkan 32 warga kampung Lengkese, Desa Manihoi, Kecamatan Tinggi Moncong, tewas. Puluhan rumah, ternak dan sekolah pun tertimbun endapan longsor.
Saat itu warga baru saja menyelesaikan ibadah salat Jumat. Ada yang kembali beraktivitas bertani di sawah, atau membawa ternak ke padang rumput. Ada pula yang langsung istirahat di rumah. Tak ada yang menyangka, sebab tak ada tanda - tanda bahwa akan adanya longsor. Semua berlangsung begitu cepat. Warga tak mampu menyiapkan diri.
Tata Mandong tak mampu berbuat banyak saat itu. Ia terlambat memberitahu warga tentang bencana ini. Ia hanya manusia biasa yang memiliki tenaga rata - rata dan harus berpacu melawan endapan longsor sepanjang 30 kilometer dengan ketebalan mencapai 400 - 500 meter tersebut.
![]() |
| Rumah Tata Mandong |
Dedikasi Tata Mandong sungguh luar biasa dan benar - benar total. Setiap pagi ia akan menggapai puncak Tallung untuk mengamati kondisi gunung sambil mengawasi aktivitas ternak - ternak warga yang beliau gembalakan. Sebab, ia bisa mengamati semuanya dari puncak Tallung. Ia tak punya teropong untuk melihat detail - detail kondisinya. Hanya dengan mata telanjang dan pengalamanlah ia menafsirkan semuanya.
Tata Mandong adalah orang yang akan dimintai nasehat oleh warga tentang kondisi Gunung Bawakaraeng untuk melanjutkan aktivitas bertani dan beternak. Tak jarang pula ia menjadi tim penyelamat ketika ada pendaki yang hilang dan tersesat.
Yang membuat pilu, Tata Mandong hanya dibayar Rp 150.000 per bulan oleh Dinas Kehutanan untuk membayar bentuk dedikasinya tersebut. Sungguh ironis memang. Untuk kehidupan sehari - harinya beliau mengandalkan ikan empang yang dipelihara. Atau sedikit sumbangan dari rekan - rekan pendaki yang rata - rata setiap akhir pekan mengunjungi rumahnya. Dan kalau terpaksa, Tata Mandong akan berjalan kaki menuju pasar Malino.
Tata Mandong hanya pria biasa. Pria normal yang membutuhkan wanita sebagai istri yang menopang dirinya dan anak - anak yang menceriakan hari - harinya. Tahun 1986, Maniah, istri yang dicintainya, meninggalkan dirinya karena tak tahan dengan kondisi miskin yang menimpa keluarganya. Gaji sebagai penanam bibit sebesar Rp 150.000 menurutnya tak mampu menopang perekonomian keluarga.
Maniah membawa serta anak semata wayang mereka, Fatimah. Hal inilah yang masih menjadi ganjalan di hati Tata Mandong. Beliau menyimpan kerinduan yang mendalam kepada keluarga yang dia cintai. Beliau ingin melihat wajah cantik putrinya yang kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Sekali lagi, sebuah keadaan yang sangat luar biasa dan hanya mampu dilalui oleh manusia yang luar biasa pula.
Tata Mandong, meski tak setenar Mbah Maridjan, adalah pahlawan lingkungan yang patut diapresiasi. Bertemu dengannya di kaki Gunung Bawakaraeng, Anda akan mengerti arti kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Rabu, 27 Februari 2013
Ayah
Sayapku' tlah patah, kalo bisa, aku ingin waktu diputar kembali, aku ingin
menciumnya memeluknya dengan erat, aku rindu pada kata nasehatnya,
aku kangen sekali sama ayahku, perginya tanpa pamit meski aku
disisinya memeluknya dengan erat dan tertidur dipundaknya, tapi dia tetap juga pergi tanpa pamit waktu aku bangun
sekitar jam 2.30 pagi, Ayahku tlah pergi, masih banyak janjiku padanya
yang belum lunas.
Ibuku adaLah...
Menggali
makna ibu mungkin tak cukup tertampung dalam lembaran kertas. Bagi
seorang anak, ibu telah termaknai sejak berabad-abad silam. Entah
tersurat atau tidak, setiap anak telah memaknai kehadiran ibu dalam
kehidupan. Sayapun merasakan dan menghayati sosok ibu yang telah
mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mendidik saya.
Masing-masing
kita sebagai seorang anak memiliki pemaknaan tersendiri terhadap
seorang ibu. Pemaknaan ini boleh jadi berbeda meskipun tak menutup
kemungkinan berada dalam kesimpulan serupa.
Bagiku..IBUKU bukan hanya seorang perempuan kuat yang berjuang membesarkan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayangnya yang tak akan pernah habis terkikis waktu. seribu bidadaripun tidak akan pernah bisa mengalahkan sosok IBUKU..yah..IBUKU..ibu yang mengorbankan segalanya untuk kami anak-anaknya. ibu rela menjual segala perhiasannya, untuk membiayai kami sekolah. ibu yang rela banting tulang sejak kepergian ayah setahun yang lalu. rela berjualan di pinggir jalan demi membiayai kuliahku yang tak sedikit banyak memerlukan uang yang banyak. Dia bangun sejak dini hari, saat orang lain terlena dengan mimpinya, mempersiapkan segala jajanan warungnya. berangkat dipagi hari demi mengharap berkah untuk hari ini. dari pagi-pagi buta ia mendorong gerobak jualannya untuk dibawanya ke kios yang selama ini menghidupiku. sepanjang hari..hanya doa-doa yang terlantur dari mulutnya..berharap jualannya bisa laris manis hingga tak ada yang tersisa. rejeki kadang berpihak pada wanita yang sudah tergolong tua itu, wajahnya yang sudah dipenuhi kerutan juga bisa tersenyum manis. namun saat rejeki memilih orang lain untuk didatangi, ibuku hanya bisa berdoa. berdoa agar besok ada rejeki yang lainnya. tubuh berpostur mungil itu kini sendirian duduk merenung di dalam kiosnya. dulu, tepatnya setahun yang lalu saat ibuku lelah menunggu pembeli selalu ada yang menggantikannya. namun sekarang lelaki itu lebih memilih untuk bahagia disisi Tuhan. ke enam anaknya jauh merantau mencari kehidupan lain yang layak. salah satunya adalah saya. kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup dikenal dikota Makassar ini. lagi-lagi ini berkat ibuku. karena perjuangannya saya bisa dikuliahkan.
Tapi terkadang tak ada yang bisa seperti ibuku. mungkin saya anak yang masih kurang bersyukur dengan semua yang telah diberikan ibu. dulu, sebelum kepergian ayah saya masih bisa selalu meronta-ronta jika minta sesuatu dan tidak dibelikan. memEcahkan barang-barang, berkata kasar dan bahkan mengacuhkan ibuku. hingga karena lelah dengan sikap kekanak-kanakanku semua keinginanku selalu dipenuhinya. saya biasa membohongi ibu dengan mengatasnamakan pembayaran kuliah padahal hanya ingin membeli sesuatu untuk keperluan pribadiku dan kesenanganku belaka. tapi kini semua kusadari saya tak pernah lagi melakukannya sejak kepergian ayah.
pernah suatu waktu pada saat ibuku selesai sholat subuh dan saya masih tertidur namun masih mendengar apa yang ibuku ucapkan dalam doanya, diam-diam saya mendengarnya tanpa sepengetahuan ibu. air mataku tak terasa menetes dengan perlahan mendengar apa yang ibuku minta pada Tuhan, bibirku gemetar dan hatiku seakan perih waktu itu.betapa tidak bersyukurnya diriku ini. di dalam doanya saya mendengar dengan nyaringnya ibu mendoakan tentang kami anak-anaknya, terutama tentang saya yang berharap agar kuliahku dilancarkan jalannya dan mendapat kesuksesan yang melimpah. berkali-kali kudengar namaku disebutnya dihadapan Tuhan. *saat menulis ini jari-jariku terhenti..aku masih mengingatnya..aku menangis lagi
Sejak saat itu aku mulai sadar dan tak pernah mengeluh lagi tentang hidupku. saya ingin mengabulkan semua harapan ibuku dan almarhum ayah yang belum sempat melihat kesuksesanku sebelum ia pergi.
maafkan saya ibu, saat ini saya belum bisa memberikan apapun untukmu, saya belum bisa sukses namun saya berjanji saya tak akan pernah mengecewakanmu lagi. saya akan sukses. insya Allah dan itu dengan doa-doamu.
ibuku adalah semanagat hidupkuh.makin tua makin cantik. :)
ibuku adalah semanagat hidupkuh.makin tua makin cantik. :)
*terima kasih untuk ibuku Hj.ST.Nurbiah Dg.Capo
Langganan:
Komentar (Atom)






