2 Februari 2013 lalu, pertama kali saya mengenal sosok Herman lantang dalam sebuah pelantikan organisasi pemerhati lingkungan "Garuda Nusantara" yang di ketuai oleh Bunda Ully Sigar Rusady. sosoknya yang tak lagi muda namun masih terlihat kekar dengan sepasang tongkat yang menopang tubuhnya. masih lihai dalam berbicara dengan semangatnya yang masih bergejolak menjelaskan riwayat hidupnya. Opa, begitulah kami memanggilnya, adalah lulusan mahasiswa jurusan antropologi di FSUI. Dia juga salah satu pendiri Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI dan pernah mengetuai organisasi itu pada periode '72—'74.
Bersama sahabatnya,Soe Hoe Gie dia juga menjadi inspirator gerakan demo long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno pasca G 30 S dan semasa Tritura.
Opa Herman Lantang memang salah satu tokoh faforit yang selalu saya banggakan. memang saya baru bertemu dengan beliau baru-baru ini, namun saya lebih dulu mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang tak pernah lepas dari Gie-Mapala dan semeru. Sampai sebelum film biografi "GIE" muncul di layar perak, tak banyak orang yang menggubris kehadiran tokoh yang satu ini, kecuali, lagi - lagi, komunitas pencinta alam, yang sangat mengagungkan sikapnya yang tetap rendah hati.
Sebenarnya, pria tua yang kini lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah, dilahirkan di sudut kota kecil Tomohon, sebuah kota administrasi di propinsi Sulawesi Utara, 67 tahun silam. Dalam buku baptisnya ia diberi nama: Herman Onesimus Lantang. Kegemarannya terhadap alam pun mulai timbul ketika ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai tentara sering mengajaknya keluar - masuk hutan di kawasan Tomohon untuk berburu. Dari situ, lambat laut, kecintaannya terhadap hutan yang sarat aroma sarasah dan petualangan timbul.
"perkenalkan ini mukhrim gue" begitulah opa memperkenalkan istrinya tercinta, oma joyce, begitu sapaan akrabnya. "kemanapun gue pergi mukhrim gue selalu setia nemenin gue".tuturnya dengan terus memandangi wajah cantik oma joyce yang sejak tadi tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang sangat mengagumi istrinya. Menularkan kecintaan pada gunung dilakukan Herman sejak awal kepada istrinya, Joyce Moningka, dan dua anak mereka, Erol Lantang dan Cernan Lantang. Langkah pertama adalah pada sang istri yang bukan ”anak gunung”, karena paling banter piknik ke kawasan pegunungan. Awalnya, Herman membawa mereka ke lembah Mandalawangi - Pangrango.
"Gue kawin telat. Usia gue waktu itu 41 tahun sedangkan istri saya 29 tahun. Beda usia kami jauh sekali, tapi kami sangat mesra sampai sekarang karena ya itu tadi, sering jalan - jalan ke gunung."tuturnya.
opa sangat bersemangat dalam menceritakan pengalaman hidupnya kepada kami. setiap kata yang terlontar dari mulutnya seakan meresap masuk kedalam otakku, disana kata-kata itu berputar-putar, dan saya seakan berada dimasa dimana dia mengalami hal yang sedang dia ceritakan. cerita yang benar-benar hidup. sungguh sosok inspiratif menurutku. opa juga tak henti-hentinya menceritakan tentang sahabat karibnya"Gie". dengan menunjuk setiap foto yang terpampang dalam slide..........
*bersambung dulu yah :)
Opa Herman Lantang memang salah satu tokoh faforit yang selalu saya banggakan. memang saya baru bertemu dengan beliau baru-baru ini, namun saya lebih dulu mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang tak pernah lepas dari Gie-Mapala dan semeru. Sampai sebelum film biografi "GIE" muncul di layar perak, tak banyak orang yang menggubris kehadiran tokoh yang satu ini, kecuali, lagi - lagi, komunitas pencinta alam, yang sangat mengagungkan sikapnya yang tetap rendah hati.
Sebenarnya, pria tua yang kini lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah, dilahirkan di sudut kota kecil Tomohon, sebuah kota administrasi di propinsi Sulawesi Utara, 67 tahun silam. Dalam buku baptisnya ia diberi nama: Herman Onesimus Lantang. Kegemarannya terhadap alam pun mulai timbul ketika ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai tentara sering mengajaknya keluar - masuk hutan di kawasan Tomohon untuk berburu. Dari situ, lambat laut, kecintaannya terhadap hutan yang sarat aroma sarasah dan petualangan timbul.
"perkenalkan ini mukhrim gue" begitulah opa memperkenalkan istrinya tercinta, oma joyce, begitu sapaan akrabnya. "kemanapun gue pergi mukhrim gue selalu setia nemenin gue".tuturnya dengan terus memandangi wajah cantik oma joyce yang sejak tadi tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang sangat mengagumi istrinya. Menularkan kecintaan pada gunung dilakukan Herman sejak awal kepada istrinya, Joyce Moningka, dan dua anak mereka, Erol Lantang dan Cernan Lantang. Langkah pertama adalah pada sang istri yang bukan ”anak gunung”, karena paling banter piknik ke kawasan pegunungan. Awalnya, Herman membawa mereka ke lembah Mandalawangi - Pangrango.
"Gue kawin telat. Usia gue waktu itu 41 tahun sedangkan istri saya 29 tahun. Beda usia kami jauh sekali, tapi kami sangat mesra sampai sekarang karena ya itu tadi, sering jalan - jalan ke gunung."tuturnya.
opa sangat bersemangat dalam menceritakan pengalaman hidupnya kepada kami. setiap kata yang terlontar dari mulutnya seakan meresap masuk kedalam otakku, disana kata-kata itu berputar-putar, dan saya seakan berada dimasa dimana dia mengalami hal yang sedang dia ceritakan. cerita yang benar-benar hidup. sungguh sosok inspiratif menurutku. opa juga tak henti-hentinya menceritakan tentang sahabat karibnya"Gie". dengan menunjuk setiap foto yang terpampang dalam slide..........
*bersambung dulu yah :)
Seasonbet77
BalasHapusagen judi
agen bola
judi bola
agen sbobet
agen bola online
agen bola terpercaya
agen casino
ibcbet online
agen judi sbobet
agen judi ibcbet
agen bola ibcbet
agen judi online
agen casino online
judi online
agen judi terpercaya
agen sbobet terpercaya
bola online
agen bola sbobet
promo bonus
prediksi skor
agen ibcbet
agen 338a
agen 1scasino
agen asiapoker77
Prediksi Skor Sporting KC vs LA Galaxy 26 Oktober 2015